Izinkanlah aku berandai-andai
Hari ini dengan tak sengaja tangan ini tergerak untuk menghapus email yang mulai menggunung, 22000 lebih email yang ada. Wawww,,butuh waktu untuk itu. Maklumlah email sebanyak itu, yang dipenuhi dengan pemberitahuan akun facebook-ku. Ada waktu, tanganku mulai tergerak menghapusnya.
Aku mulai asyik menikmatinya, sekali proses 35 pesan terhapus dan aku memulainya dari pesan paling jadul dari jaman baheulak, dua tahun lalu. Email itu dimulai di bulan Juni 2009, hampir dua tahun lebih dari sekarang. Tak pandang email dari siapapun dengan tak pandang bulu aku menghapusnya tanpa ampun. Namun tiba-tiba aku tercekat, terdiam sejenak menatap nama si pengirim email, nama itu menggetarkan hatiku. Si pemilik nama, seseorang yang pernah ada di hidupku, mengisi hatiku, dan orang itu masih ada di hatiku, detik ini. Aku tergerak untuk membuka emailnya, membacanya dan membuka situs facebooknya. Hati mungkin boleh senang, namun lebih banyak sedihnya karena itu hanya ada di masa lalu, masa yang pernah aku sia-siakan. Aku tersenyum bahkan tertawa, menertawakan diri sendiri.
Aku asyik membacanya. Ternyata dulu ia selalu ada di hari-hariku. Ternyata dulu dia ada di setiap aku ada. Ternyata dulu ada perhatiannya untukku. Dan ternyata itu dulu, sebelum aku melukainya dan aku pun terluka. Andaikan itu ada saat ini. Ijinkan aku sedikit berandai-andai.
Andai saja aku tak menyia-nyiakan perasaanku dan perasaannya. Andai saja aku mengatakan akupun juga menyayanginya. Andai saja aku tak mengulur-ulur waktu. Andai saja aku mengerti dia. Andai saja aku tak mempermainkan hatinya. Andai saja ia masih menyayangiku. Andai saja masa itu juga bagian dari masa sekarang. Andai saja ia mau memaafkanku. Andai saja ia tau perasaanku dan andai saja ia menganggapku ini ada. Terima kasih telah mengizinkan aku berandai-andai.
Aku merindukannya dan kembali mengingatnya, email terima kasih. Meski aku hanya masa lalumu, dan teman bagimu. Aku harap kau tak menyalahkan dengan perasaanku. Izinkan aku menikmati perasaan ini. Izinkan aku menikmatinya sebelum nanti aku mengakhirinya.
Sayang, izinkan dalam tulisan ini aku memanggilmu sayang. Karena dulu aku tak sempat mengatakannya. Jadi izinkan hanya dalam tulisan ini. Sayang, izinkan aku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar