Aku Tak Malu, Ketika Aku Menangis
Entah kenapa, tiba-tiba saja dadaku terasa sesak. Sangat sulit bagiku untuk bernafas. Aku menghela nafas panjang, mengambil nafas dalam-dalam, mencoba mengatur diri. Aku memejamkan mata sejenak, menangkan diri, mengatur pikiran. Aku akan baik-baik saja.
Aku tak akan menangis. Aku akan mencoba untuk tak menangis lagi, menangisi sesuatu yang tak perlu untuk ditangisi. Aku akan baik-baik saja, dengan hidupku. Aku akan baik-baik saja dengan jalan yang kupilih, dengan keputusan yang kuambil. Apapun itu, aku akan baik-baik saja. Tapi, dadaku masih terasa sesak.
Dingin itu menusuk tulangku, sungguh terasa sangat dingin. Malamku kali ini, ditemani hujan yang telah terpendam beberapa hari, hingga ia datang dengan derasnya. Hujan itu tak sendiri, gemuruh menemaninya. Tapi aku sendiri, di sudut kamarku, dengan pikiranku yang entah tak jelas arahnya. Aku hanya ingin menumpahkannya di sini, sebelum nantinya aku terlupa, dan benar-benar lupa.
Lalu, apa lagi. Apa lagi yang kini tengah kurasakan, aku tak tau. Lambat laun, kepalaku pun terasa berat. Apakah sudah waktunya aku untuk beristirahat, ini terlalu pagi bagiku untuk memejamkan mata dan melepas lelah.
Aku tenang, mulai tenang. Gemericik hujan di luar sana, terdengar sangat merdu. Jatuh beraturan bagai tangga nada, menjadi sebuah melodi yang tak ingin aku tinggalkan. Begitu merdu di telingaku. Aku mulai tenang, aku baik-baik saja.
Entah rasanya, aku seperti ingin menangis. Tidak. Aku tak mau menjadi seperti gila lagi, kehilangan akal, dengan menangis tanpa alasan dan sebab yang jelas. Tapi, ia sudah hampir di ujung pelupuk mata, ia akan jatuh, dan mungkin deras. Aku akan sekuat tenaga mencegahnya, menahannya. Aku akan mencoba untuk tak menangis lagi. Ini hidupku, aku yang menentukannya, menangis atau tertawa. Tapi lagi-lagi dadaku terasa sesak, sangat sesak. Sesuatu menusuknya, mungkin ini adalah dampak dari tangis yang tertahan. Dan pertahananku goyah, malam ini aku menangis. Aku diam sejenak, menangis dalam diamku.
Aku hanya menangis untuk sesaat. Itu sedikit melegakan hatiku, meredakan sesak di dadaku. Mungkin nantinya, menangis menjadi hobiku. Aku bisa menangis kapan saja, tanpa pernah kuminta. Menangis bukan tanda sebuah kelemahan. Menangis menjadi tanda bahwa diri memiliki perasaan. Aku tak perlu malu untuk menangis. Ya, menangis bukan suatu kelemahan.
Lalu apa sekarang. Aku telah usai menangis. Di sekitarku mulai tak lagi dingin. Aku merasa bahwa aku akan baik-baik saja dengan hidupku. Aku akan menikmatinya, sebagai bagian dari lembaran sejarah hidupku. Aku, tak malu jika menangis.
Bogor, 12 Febuari 2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar