YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Sabtu, 25 Februari 2012


Kisahku,,,
“Mengertilah aku resah,mungkinkah aku cemburu,
Tolonglah tenangkan aku, putuskan diaa,,bercintalah denganku”
song by Melly Goeslaw
Aku pernah menyanyikan lagu ini untuknya. Lagu yang aku rasa menggambarkan bagaimana kondisiku saat itu, mencintai seseorang yang telah memiliki kekasih. Aku mengenalnya lebih dahulu dibanding kekasihnya. Ia yang membuat aku mencintainya. Dan karena kebodohanku, aku pun harus kehilangannya. Tapi itu cerita masa laluku, masa yang bisa dikatakan masa cinta pertamaku. Cinta yang banyak memberi waran, memberi makna tentang tawa dan air mata. Dan kisah yang meyakinkanku bahwa aku juga berhak untuk menghirup udara bahagia. Dan kini aku mencobanya.
Usaha yang begitu keras harus aku lakukan. Banyak hal yang harus aku lalui, selama prosesku untuk melupakannya. Proses untuk benar-benar melupakannya. Ini bukan hal yang mudah yang bisa dilakukan hanya dengan membalikkan telapak tangan. Proses itu berhasil akhirnya, meski harus dengan menangis terluka ketika sadar bahwa diriku telah ditipu dan dibodohi, oleh sesama wanita.
Perih pernah aku rasakan. Dan kini perih luka itu telah terobati. Seseorang tak memberikan penawar itu, tapi aku yang memilihnya sebagai penawarnya. Dan itu berhasil. Aku sangat berharap bahwa aku bukanlah orang yang mudah untuk jatuh cinta. Aku ingin meyakinkan diriku, bahwa seseorang yang kupilih dengan hati maka akan kujalani dengan hati. Aku tak mudah untuk merasakan jatuh cinta. Aku hanya merasa bahwa ia hadir di saat yang tepat, hadir di saat diri merasa begitu kosong. Apakah ia mengisi kekosongan itu??? Mungkin, jawabanku.
“dan ku tlah jatuh cinta, ku wanita dan engkau lelaki,
Perasaanku berkata, I’m falling in love,,,”
Kini laguku tlah berganti. Aku tak lagi merasa cemburu, atau mengharap berakhirnya hubungan seseorang. Aku telah jatuh cinta, pada seseorang yang telah membukakan mata ini. aku tak tau mengapa aku menyukainya, karena hatiku yang memilih, jadi tanya saja pada hatiku. Ia mampu menjaga seseorang yang ada di dekatnya, aku yakin itu. Ia bukanlah sosok anak manja, yang menggantungkan semua pada ibunya. Ia dewasa, berpikir lugas dan berwawasan luas. Ia mampu menjadi dirinya sendiri, hingga aku bukan melihatnya sebagai orang lain. Demikian aku menyukainya. Ia jauh berbeda dari orang yang ada di masa laluku. Ia lebih baik darinya. I’m sure.
“hanya namamu di hatiku,,jiwa dan raga takkan berdusta,,”
Pernahkah kau jatuh cinta??? Hatimu bergetar ketika mendengar namanya. Degup jantung berdetak makin kencang ketika ada di dekatnya. Hati merasa resah jika tak ada di dekatnya, tak tau bagaimana kabarnya. Bibir tak dapat berucap ketika ia ada di sampingmu, tak tau harus berkata apa. Diri selalu merindukannya. Selalu menantikan hari untuk bertemu dengannya, hanya untuk dapat melihatnya dari kejauhan membuat hatimu girang tak karuan. Hati menggalau di tengah kesendirian malam. Memikirkannya, membayangkan bersamanya, ada di depannya. Memimpikannya, menjadi hal yang begitu membahagiakan. Mencari alasan dan cara untuk dapat bertemu, memutar otak dengan keras untuk itu. Kegirangan ketika pesan yang kau kirim mendapat balasan, loncat-loncat dan nafas tak beraturan. Mencari topik pembicaraan agar dapat ber-sms ria. Semua ketika aku jatuh cinta, pada seseorang yang kuanggap tepat. Beginilah ketika aku jatuh cinta. Beginilah di saat aku menggalau.
Hhhmmm, aku hanya mengungkapkan apa yang kini tengah kurasakan. Aku ingin menggoreskannya di sini, sebelum nantinya aku lupa. Agar ia ada dalam sejarah hidupku. Mungkin nantinya bisa menjadi cerita bagi anak cucuku, mungkin anak cucuku dengannya. Hahahaha. Berharap sangat untuk itu. Mungkin ini sedikit berlebihan atau lebay. Semoga keyakinan itu tak lagi pergi dengan yang lain. Keyakinanku akan dirinya bisa ia dengar, hingga kami punya keyakinan yang sama. Amiiin.
Ku nantikan esok hari untuk bertemu dengannya. Matahri esok semoga menyambut dengan hangat. Dan Tuhan merestui semuanya. Amiiiin.
                                                                        Bogor, 25 Febuari 2012

Jumat, 24 Februari 2012



Inilah kenyataannya,,,
Aku tak mengerti dengan apa yang telah terjadi padaku. Aku memang telah melupakan seseorang yang selama tiga tahun bertahta di hatiku. Dan aku kini menyimpan perasaan pada seseorang, seseorang yang datang pada waktu yang tepat, yang tak pernah kusangka sebelumnya. Aku tak tau bagaimana perasaannya padaku. Tapi yang ku tau, ia kini yang ada di hatiku.
          Aku seperti orang gila, atau memang sudah benar-benar gila, aku tak tau. Aku hampir gila dibuatnya. Yang aku rasakan saat ini berkali kali lipat dahsyatnya dibandingkan dengan masa lalu itu. Aku selalu merindukannya, menantikan untuk bertemu dengannya. Aku galau. Ya galau dan benar-benar galau. Entahlah, ia begitu menguasai ruang hatiku hingga hatiku tak dapat bergerak ke lain arah, selain padanya.
          Aku tak tau alasan apa yang membuat aku begitu menyukainya. Secara tak langsung, ia mengajarkan aku untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Ia mengingatkan banyak hal. Semuanya membuat yakin hatiku untuknya.
          Dengan demikian, pantaslah ia untuk dicintai. Tapi pantaskah aku untuk dicintai. Dan pantaskah dia mencintaiku. Oh aku tak suka dengan kata cinta. Begitu geli aku mendengarnya. Hahaha. Ya, aku tak tau pantaskah aku untuknya.
          Terkadang, hati rasa ingin menangis ketika sadar bahwa telah menambatkan hati pada seseorang. Merasa aku tak baik untuknya. Aku tak ingin mencari yang sempurna, karena tak ada yang sempurna di dunia ini. kecuali kesempurnaan itu hanya menjadi definisi sendiri, atau sempurna itu merupakan relatifitas. Aku hanya melihat apa yang ada pada dirinya, bukan mencari apa yang ada.
          Aku hanya berharap bahwa cinta itu tak lagi bertepuk sebelah tangan, karena pasti itu rasanya pasti amatlah sangat menyakitkan. Aku pernah merasakannya, dan taukah dialah yang menjadi penawar luka yang dalam itu. Dengan demikian aku berterima kasih padanya. Terima kasih.
                                                        Bogor, 24 Febuari 2012

Rabu, 15 Februari 2012

Kabar duka,
Ku dapatkan kabar yang tak baik hari ini. satu-satunya media yang membuat aku tau bagaimana keadaannya adalah twitter. Dari sana aku tau sehatkah dia, sedang apakah dia, sedang dimanakah dia, dan dari sana pula aku tau kemarin ia mendapat musibah. Ia mengalami kecelakaan. Innalillahi.
Tak banyak yang bisa aku lakukan. Aku hanya mampu mendoakannya dari sini, jauh darinya. Syukurku, karena Allah masih menyayangi dia. Allah masih memberinya umur panjang yang semoga semakin berkah. Amiiin.
Keadaannya kali ini menjadi tertundanya agenda ia kembali menuntut ilmu. Mungkin memang semakin lama bagiku untuk melihatnya, tak apa. Bagiku ia dalam keadaan baik itulah yang terbaik. Semoga Allah lekas memulihkan kondisinya.
Kutunggu kau di sini. Aku tak mampu menyapamu, maaf. Aku hanya mampu menyapamu, dalam mimpiku. Baiklah, memang hanya ini yang kumampu. Maaf tak bisa lebih dari itu.
Cepat sehat,,,
                                                   Bogor, 14 Febuari 2012

Sesaat,,,,
Lelah pagi ini. aku butuh suasana baru, untuk ketenangan hati dan hidupku. Aku merubah total kamarku. Pastinya akan lebih baik dari yang kemarin. Dia menuntunku untuk menjadi lebih baik. Aku akan terus mencoba dan mencoba.
Perasaanku lebih baik hari ini. alhamdulillah. Aku telah lama merindukannya.
Tak lama lagi, ia akan kembali. Aku menghitung detik itu, hingga hari itu tiba. Aku merindukannya, meski ia tak merindukanku. Biarlah itu, aku tak peduli. Aku hanya ingin menikmatinya. Aku selalu berharap bisa bertemu dengannya, meski tak pernah terlintas di pikirannya untuk bertemu denganku. Tidak, aku hanya ingin melihatnya. Itu sudah sangat cukup bagiku. Aku tak mengharap sesuatu yang lebih.
Hari itu akan selalu kunanti. Ia kembali, tak jauh dari tempatku berada. Aku tak lagi sendiri, karena ditemani bayang dirinya. Baikkah dia di sana??? Aku harap Allah senantiasa melindunginya. Amiiin.
Sesaat, hanya untuk sesaat biarkan aku sejenak menghela nafas. Melepas sedikit kepenatan hatiku. Hanya sesaat, sampai nanti, di sini, di kota yang mempertemukanku dengannya.
                                                     Bogor, 13 Febuari 2012

Selasa, 14 Februari 2012



Aku Tak Malu, Ketika Aku Menangis
Entah kenapa, tiba-tiba saja dadaku terasa sesak. Sangat sulit bagiku untuk bernafas. Aku menghela nafas panjang, mengambil nafas dalam-dalam, mencoba mengatur diri. Aku memejamkan mata sejenak, menangkan diri, mengatur pikiran. Aku akan baik-baik saja.
Aku tak akan menangis. Aku akan mencoba untuk tak menangis lagi, menangisi sesuatu yang tak perlu untuk ditangisi. Aku akan baik-baik saja, dengan hidupku. Aku akan baik-baik saja dengan jalan yang kupilih, dengan keputusan yang kuambil. Apapun itu, aku akan baik-baik saja. Tapi, dadaku masih terasa sesak.
Dingin itu menusuk tulangku, sungguh terasa sangat dingin. Malamku kali ini, ditemani hujan yang telah terpendam beberapa hari, hingga ia datang dengan derasnya. Hujan itu tak sendiri, gemuruh menemaninya. Tapi aku sendiri, di sudut kamarku, dengan pikiranku yang entah tak jelas arahnya. Aku hanya ingin menumpahkannya di sini, sebelum nantinya aku terlupa, dan benar-benar lupa.
Lalu, apa lagi. Apa lagi yang kini tengah kurasakan, aku tak tau. Lambat laun, kepalaku pun terasa berat. Apakah sudah waktunya aku untuk beristirahat, ini terlalu pagi bagiku untuk memejamkan mata dan melepas lelah.
Aku tenang, mulai tenang. Gemericik hujan di luar sana, terdengar sangat merdu. Jatuh beraturan bagai tangga nada, menjadi sebuah melodi yang tak ingin aku tinggalkan. Begitu merdu di telingaku. Aku mulai tenang, aku baik-baik saja.
Entah rasanya, aku seperti ingin menangis. Tidak. Aku tak mau menjadi seperti gila lagi, kehilangan akal, dengan menangis tanpa alasan dan sebab yang jelas. Tapi, ia sudah hampir di ujung pelupuk mata, ia akan jatuh, dan mungkin deras. Aku akan sekuat tenaga mencegahnya, menahannya. Aku akan mencoba untuk tak menangis lagi. Ini hidupku, aku yang menentukannya, menangis atau tertawa. Tapi lagi-lagi dadaku terasa sesak, sangat sesak. Sesuatu menusuknya, mungkin ini adalah dampak dari tangis yang tertahan. Dan pertahananku goyah, malam ini aku menangis. Aku diam sejenak, menangis dalam diamku.
Aku hanya menangis untuk sesaat. Itu sedikit melegakan hatiku, meredakan sesak di dadaku. Mungkin nantinya, menangis menjadi hobiku. Aku bisa menangis kapan saja, tanpa pernah kuminta. Menangis bukan tanda sebuah kelemahan. Menangis menjadi tanda bahwa diri memiliki perasaan. Aku tak perlu malu untuk menangis. Ya, menangis bukan suatu kelemahan.
Lalu apa sekarang. Aku telah usai menangis. Di sekitarku mulai tak lagi dingin. Aku merasa bahwa aku akan baik-baik saja dengan hidupku. Aku akan menikmatinya, sebagai bagian dari lembaran sejarah hidupku. Aku, tak malu jika menangis.
                                                                            Bogor, 12 Febuari 2012