Luka dan Bahagia
Saat itu hatiku benar-benar hancur. Hancur dalam artian benar di puncak rasa sakit. Dibohongi. Ya saya dibohongi oleh seseorang yang saya percaya. Saya mempercayakan seseorang padanya, karena saya percaya bahwa dia baik untuknya. Tapi ternyata saya malah menjadi korban dari perasaannya. Ya, saya korban. Yang awalnya sudah berkorban, akhirnya menjadi korban. Saya menangis dan tertawa. Menangis karena merasa dibodohi, dan tertawa karena merasa bodoh. Saya merasa seperti pihak yang teraniaya. Lalu apa yang saya lakukan. Mengutuk, saya mengutuk tak ada hentinya. Tapi mau sampai kapan??? Lambat laun, saya mencoba menikmati rasa sakit itu. Sesuka hati saya menyatakan apa yang saya rasakan di media umum (red twitter dan fb). Mungkin ia membacanya, dan saya yakin dia membacanya. Semoga saja. Tapi entahlah ia akan merasa atau tidak, kesadaran masing-masing diri, tergantung tingkat kepekaan.
Bertahun-tahun saya bertahan. Saya bertahan untuk memilih seseorang untuk mengisi hati saya. Walaupun saya tau bahwa penantian lama itu hanya akan menjadi bomerang sendiri bagi saya, karena hanya saya yang akan tersakiti. Tapi saya memilihnya. Saya memilih bertahan. Dan ketika kenyataan berkata bahwa dia telah memiliki seseorang, apa saya masih mau bertahan??? Ya, saya masih mencoba bertahan dengan perasaan saya. Dengan pertimbangan beberapa hal. Tak hanya sekali sebuah keinginan untuk melupakan orang itu. Sudah tak terhitung lagi. Berbagai upaya saya lakukan untuk melupakan dia. Mulai dari menghapus semua sms yang pernah ia kirim. Mungkin perlu diketahui, selama tiga tahun saya masih menyimpan sms darinya. Ketika saya menghapus sms itu, seketika semua hilang tak bersisa. Itu menjadi langkah awal. Selanjutnya saya menghancurkan semua yang berkaitan dengannya. Saya potong fotonya dan semua hal yang berkaitan dengannya. Tapi apa yang terjadi??? Sebelum saya menghapus sms darinya, saya telah terlebih dahulu menyalinnya alias mengetik ulang di laptop saya, lengkap dengan tanggalnya. Dan foto yang telah saya potong menjadi kepingan kecil itu, saya kembali merangkainya, menyatukannya, dan itu butuh waktu yang cukup lama. Semua itu saya lakukan, ketika saya memilikih bertahan. Dan saya meminta maaf pada semua pihak yang mungkin merasa tersakiti dengan keegoisan saya, egois untuk bertahan menyayangi seseorang yang menjadi milik orang lain. Saya minta maaf.
Menyesal sebenarnya tidak. Karena ia telah mengajarkan banyak hal pada saya. Dia menyadarkan bagaimana seharusnya saya menyayangi orang lain. Mengajarkan tentang tangis, tawa. Saya tau itu sebuah rasa benci, karena saya pernah bahagia. Untuk itu saya ucapkan terima kasih.
Untuk seseorang yang telah membohongi saya, saya ucapkan terima kasih. Karena itu menjadi awal saya benar-benar melepaskan dia untuk anda walaupun bukan menjadi akhir bagi saya menangis karenanya. Tapi saya ucapkan terima kasih, karena dengan demikian saya mampu membuka hati saya pada orang lain. Dan anda tau, anda membantu saya. Anda membantu saya memberi waktu yang tepat untuk melupakan dia. Jadi selamat untuk anda.
Dia datang di waktu yang tepat. Di saat saya merasa kosong dan sendiri. Dia mengalihkan waktu dan perhatian saya darinya. Entah mengapa sulit mengutarakannya di sini. Saya merindukan saat-saat saya bersama dia. Saya menantikan waktu untuk dapat bertemu dengannya. Saya tak mampu melihatnya ketika ia berada tak jauh dari saya. Saya hanya mampu mencuri pandang padanya. Saya mencoba mengendalikan perasaan saya. Saya tak mau jatuh terlalu dalam lagi, karena rasa sakit nantinya juga akan semakin dalam ketika mendapatkan kekecewaan. Saya mencoba menikmati perasaan ini. lagi-lagi ingin menikmatinya. Saya tak mau orang lain tau. Biar saya pendam sendiri. Dia orang yang baik, saya yakin itu. Semoga tak lagi membutakan mata dan hati saya. Saya ingin tersenyum untuknya. Saya ingin menjadi diri saya sendiri. Saya ingin melihat saya, sebagai diri saya yang sebenarnya, bukan kepalsuan. Saya hanya ingin tulus. Saya menginginkan ketulusan. Saya ingin tulus dengan perasaan ini. semoga tak lagi sebuah perasaan yang berakhir dengan duka dan luka. Amiin.
Bogor, 14 Januari 2012

