YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Senin, 10 Oktober 2011

Ampun Mbah Jin...


AMPUN MBAH JIN...
Berlatar belakang pesantren, enam tahun aku jalani di tempat yang sering disebut dengan “penjara suci” itu. Tapi jujur, aku tak setuju dengan sebutan itu. Karena pesantren meluluskan orang-orang sukses, penerus bangsa yang tangguh. Tak setuju pula aku dengan mereka yang menganggap pesantren adalah sarang teroris. Perlu diketahui, negara ini merdeka pun tak lepas dari tangan-tangan pejuang dari para Kyai. Bagi mereka yang menjadi teroris, menebar bom di sana-sini, yang mengaku mengatasnamakan jihad karena Allah, keblinger mereka. Terlalu tinggi mungkin ilmu mereka sehingga menjadi salah tafsir mengenai jihad.
Terlepas dari masalah teroris ya, hidup di pesantren memberi berjuta pengalaman yang sangat menjadi pelajaran dalam hidup. Bahkan cerita dan hal-hal yang konyol pun tak jarang melekat dari para santri. Ambil saja ceritaku semasa di pesantren dulu. Kamar yang hanya berukuran 9x4 itu diisi oleh delapan orang. Satu jendela berada di salah satu dindingnya, lemari-lemari berderet di setiap tepi tembok, kami tidur dan beraktivitas di antaranya. Banyak hal yang kami lakukan, tak hanya mengaji dan belajar. Kami bercengkarama, bercanda tawa di sela-sela waktu istirahat. Malam itu ba’da isya’ kami (aku dan teman sekamarku) bercerita heboh tentang sinetron yang saat itu sedang in. Begitu menggebu-gebu, satu bercerita yang lainnya pun tak mau kalah serunya. Namun sesaat kami terdiam,
            “heeeiiii,,siapa nih yang kentut??!!!” seruku seraya menutup hidung, bau benar kentut itu.
            Semua terdiam dan saling berhadapan, seluruhnya menggeleng tak ada yang mau mengaku.
            “Haayyoooo siapa yang kentut??? Ngaku aja dehh, bau nihh!!!”, paksaku pada mereka.
            Namun tetap saja tak membuahkan hasil, tak ada yang mengakuinya. Lama kami berdebat dan tak ditemukan pula siapa pemilik kentut yang sungguh bau itu.
            “waaahhh,,,berarti Mbah Jin lewat sambil kentut nihh”,simpulku kemudian.
            Yang lain pun mulai panik, sedikit merasa takut.
            “Abisnya ga ada yang mau ngaku sihh,, brarti Mbah Jin lewat sambil numpang ngentut”.
            Semua terdiam, dan tak mau ambil pusing. Toh memang bukan di antara kami yang kentut. Kami pun melanjutkan acara mendongeng. Semenjak kejaian itu, setiap ada kentut yang tak bertuan maka kami menganggapnya si Mbah Jin lewat sambil numpang kentut.
            Itu cerita dulu, mungkin delapan tahun yang lalu. Masa kini mungkin hal yang hampir sama baru saja aku alami. Namun aku tak lagi di pesantren itu. Kini aku tinggal di luar, jauh dari orang tua untuk menuntut ilmu. Hehehehee...
            Siang itu aku hendak melaksanakan sholat dhuhur. Seperti biasa aku sholat di kamarku yang hanya berukuran 2,5x2,5. Seusai wudhu, aku mengambil mukena. Namun, mukena yang aku cari tak ada di tempatnya. Ku cari di atas kursi, tak ada. Aku cari di bawah meja, hasilnya nihil. Aku cari di ruang tamu pun juga tak ada. Seluruh penjuru rumah sudah aku telusuri, namun tetap saja mukena itu tak kutemukan. Kamarku sudah acak-acakan. Aku berfikir keras, dimana gerangan keberadaan mukenaku. Aku mulai flashback, masih sangat ingat aku sholat subuh dan menruh mukena di kamar. Namun anehnya tetap tak ada. Kebetulan saat itu ada seorang teman yang tidur di kamarku. Tak enak aku membangunkannya, dan tak mungkin ia tau dimana mukenaku. Aku mulai teringat dengan kejadian saat di pesantren, tentang Mbah Jin yang terkadang suka usil.
            Deg!!!! Aku terdiam sejenak. Sedikit takut dan menyesal.
            “Aduuhh Mbah Jin...Ampun Mbah... balikin ya mukena saya”, ucapku lirih. Dengan sedikit takut, tetap yakin bahwa mukena itu aku pakai paginya.
            “Mbah..ampuun. tolong balikin mukena saya,,saya janji deh ga akan sholat telat lagi”, lanjutku penuh harap Mbah Jin akan mendengarku dan mengembalikan mukenaku. Padahal saat itu waktu dhuhur belum lama berlalu, masih jam 12an.
            “Mbah..beneran deh”, ucapku mulai putus asa.
            Tak lama temanku bangkit dari tidurnya, ia bertanya “Jam berapa, Mi???”
            “Jam 12 lewat”, jawabku dengan mimik sesal.
            Namun sesaat temanku bangun dan berdiri, tak sengaja aku melihat lipatan kain di atas kasur, di tempat dimana kepala temanku saat tidur.
            Spontan aku tertawa terbahak-bahak,
            “Hahahahahahahahahahahaaaa”,,,
            Temanku bingung dengan sikap anehku yang tiba-tiba tertawa.
            “Kenapa lo, Mi???”
            Dengan masih menahan tawa, “ternyata lo Mbah Jin-nyaa..hahahahahahahahahhaaa”
            “Maksud lo????”
            “tadi gw bilang kalo yang ngumpetin mukena gw itu si Mbah Jin, dan ternyata lo yang ngumpetin mukena gw.”
            “So???”, tanyanya bingung.
            “Berarti lo Mbah Jin-nya. Hahahahahahahaaa”, aku melanjutkan tawa sampai puas. Dan berfikir itu sangat konyol. Kenapa aku sampai berfikir bahwa Mbah Jin yang ngumpetin mukenaku. Mungkin memang sebagai bahan nostalgia masa-masa di pesantren. btw,,taukah siapa Mbah Jin itu??? silahkan tebak salah satu penghuni brownies, tentunya selain saya.
            Hhhmmm....ini ceritaku. Apa ceritamu??? Mau tau yaaaa,,, Siapa tau di antara kalian juga punya cerita tentang Mbah Jin atau yang lainnya. J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar