YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Sabtu, 22 Oktober 2011

Crazy Little Thing Called Love



CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE
Cerita dari film ini mungkin tak asing bagi penikmat film doyan film dengan genre romantic love. Seperti biasanya bercerita tentang seorang gadis lugu dengan wajah yang pas-pasan yang kemudian jatuh cinta pada seorang jejaka tampan yang satu sekolah dengannya. Sang gadis melakukan banyak hal untuk membuat sang pujaan hati bertekuk lutut padanya. Bahkan buku 9 metode membuat jatuh cinta pun disantapnya.

Sebenarnya cerita ini biasanya saja. Dari kata biasa saja inilah saya tertarik hati untuk menontonnya. Begitu iri saya dengan tekad dan kemauan Nam (tokoh utama wanita), ia tau dengan segala kekurangan yang ia miliki tapi ia tak pernah malu untuk mencintai dan bertahan untuk mencintai seseorang yang memang ia cintai. Ia tak pernah menyerah, meski ia harus menerima olok-olokan dari mereka yang merasa lebih darinya. Ia akan mengatakan sesuatu itu salah dan tak membenarkan sesuatu yang memang salah. Kesederhanaannya dan apa adanya dari apa yang ia miliki menjadi daya tarik tersendiri bagi seseorang yang menganggapnya lain.
Tak perlu malu untuk mencintai seseorang, seburuk apapun kita. Karena cinta adalah hak, tak ada yang dapat memaksanya. Nam melakukan segala hal untuk menunjukkan bahwa ia bisa. Buktinya, dari ranking 30 di kelasnya, ia bisa mencapai ranking 1, meski harus ditempuh selama tiga tahun. Dari sebagai penghuni sekolah yang berada di tingkat bawah, ia bisa menjadi orang nomor satu di sekolah dimana banyak orang yang memujinya. Ia tak kenal menyerah. Selalu berusaha untuk maju. Dan orang yang ia cintai adalah semangatnya.
Sebenarnya cerita ini biasa saja. Justru karena saya menganggapnya biasa, banyak adegan-adegan yang tak terduga terselip di dalamnya, meleset dari tebakan saya. Salah satunya adalah para pemerannya ga diganti meskipun ceritanya sudah sembilan tahun kemudian. Hehehehehehee. Bukan itu sebenarnya. Nam menjadi dirinya sendiri, hingga seseorang akan mencintai apa yang ada pada dirinya. Cerita sedikit mengaharu biru di akhir cerita. Dengan persahabatan yang sedikit renggang karena cinta, dan tentunya perjalanan cinta Nam yang membuat geregetan.
Sebenci apapun Nam pada Shone, ia tetap tak dapat berpaling hati. Meski sahabat Shone yang tak kalah tampannya pun tak membuat Nam berpindah ke lain hati. Tapi menurut saya Shone yang paling ganteng. Hehehehehee. Kecantikan Nam bukan dari penampilan luar, melainkan dari dalam. Dengan sendirinya Nam terlihat cantik. Tiga tahun bukan waktu yang singkat untuk memendam perasaan. Butuh perjuangan dan kesabaran dalam menjalaninya.
Banyak hal yang Shone tak tau. Shone tak tau betapa Nam mencintainya. Shone tak tau betapa kerasnya Nam memperjuangkan cintanya. Shone tak pernah betapa inginnya Nam berada diboncengannya. Shone tak pernah tau bahwa Nam mengharapkannya. Shone tak pernah tau betapa senangnya Nam saat Shone membawakan tasnya. Shone tak pernah tau betapa keras usahanya untuk bertahan mencintai Nam. Dan Shone tak pernah tau betapa sakitnya Nam ketika Shone dengan orang lain.
Akan tetapi, banyak hal yang Nam tak tau. Nam tak tau bahwa yang memakan apel dalam drama yang ia perankan adalah Shone. Ia tak pernah tau hati Shoun saat menyebut nama sahabatnya di depan Nam. Nam tak pernah tau makna tulisan Love yang ada di punggung seragam Shone. Nam tak pernah tau bahwa Shone masih menyimpan coklat yang telah mencair yang pernah Nam berikan. Nam tak pernah tau betapa sakitnya perasaan Shone ketika melihat Nam dengan sahabatnya. Nam tak pernah tau betapa hati Shone terbakar cemburu ketika sahabatnya mencium pipi Nam. Nam tak pernah tau betapa senangnya Shone dengan perhatian Nam. Nam tak pernah tau bahwa Shone juga mengaharapkan ia dapat menggendong Nam di punggungnya. Nam tak pernah tau betapa senangnya Shone di dekatnya. Nam tak pernah tau bahwa Shone selalu mengambil gambarnya tanpa Nam sadari. Nam tak pernah tau bahwa ia menjadi penyemangat bagi Shone. Dan Nam tak pernah tau betapa Shone juga mencintai Nam. Shone mencintai Nam dalam kebisuan. Dan saya mengetahui itu semua menjelang akhir cerita. Sungguh menyentuh hati.
Saya acungi jempol buat Nam. Ia punya keberanian tingkat tinggi buat menyatakan perasaanya pada Shone. Seluruh keberanian yang ia miliki dikerahkan. Dalam tangisnya, Nam mengatakan sejujur-jujurnya, bahwa apa yang ia miliki sekarang, ia menjadi secantik saat itu semua karena ia mencintai Shone. Mawar putih ia berikan dengan sedikit malu-malu. Namun betapa hancurnya hati Nam saat ia tau bahwa Shone telah menjadi milik orang lain. Betapa beratnya bagi Nam untuk mengucapkan selamat pada Shone dan pada kekasih Shone. Yang lebih menyakitkan adalah bahwa Shone baru satu minggu menjalin hubungan dengan temannya.
Buku Shone, hanya tentang Nam. “buku ini lucu tapi itu membuat saya tau betapa banyak kamu telah mencoba. Aku mau kamu tau bahwa kamu telah berhasil sejak kamu memulainya. Tapi aku tak bisa mengungkapkan rasa sejatiku untuk siapapun. Saat pertama kali memegang tanganmu, tapi aku harus melepaskannya. Memberinya apel yang sudah aku gigit sedikit. Cinta bisa memenangkan segalanya, terutama rasa takut. Mawar yang pernah aku beri, awalnya sangat sulit untuknya tumbuh, aku memberi mawar itu atas nama sahabatku. Saat sahabatku menyatakan perasaannya padamu, taukah kau betapa sakitnya hatiku.”. buku itu hanya berisi tentang Nam, dan buku itu khusus Shone berikan pada Nam, di hari terakhir sebelum nantinya bertemu sembilan tahun kemudian. Shone dan Nam, sama-sama merasakan sakit untuk cinta mereka.
Hadeuuhhh, kalo nonton langsung, lumayan mengharu biru dan menguras air mata. Ingin juga kisah saya happy ending seperti kisah cinta Nam. Ia dicintai dengan apa yang ada pada dirinya. Ia mencintai dengan ketulusannya. Kesuksesan pun diraihnya. Berjuang dengan keras untuk tetap mencintai seseorang meski harus memakan waktu bertahun-tahun. Hal-hal manis yang tak terduga ia dapatkan dari orang yang ia cintai (meski Nam tak pernah tau). Betapa manisnya, Shone datang dengan membawa rangkaian mawar untuk Nam. Detik-detik yang menegangkan ketika Nam menunggu jawaban Shone tentang status pernikahannya. Betapa manisnya ketika Shone menjawab bahwa ia menunggu seseorang pulang dari Amerika. Pingiiiiin happy ending, bersama dengan orang yang kita cintai dan yang mencintai kita.
Apapun kisah kita, smoga slalu heppi ending yaaaah..:)
Ini beberapa cuplikan adegan filmnya,,,,
before....
 after...

 beberapa adegannya..:)





hehehehee,,,ganteng kan cowoknyaaa,,,cantik pula ceweknyaa...

Senin, 10 Oktober 2011

Ampun Mbah Jin...


AMPUN MBAH JIN...
Berlatar belakang pesantren, enam tahun aku jalani di tempat yang sering disebut dengan “penjara suci” itu. Tapi jujur, aku tak setuju dengan sebutan itu. Karena pesantren meluluskan orang-orang sukses, penerus bangsa yang tangguh. Tak setuju pula aku dengan mereka yang menganggap pesantren adalah sarang teroris. Perlu diketahui, negara ini merdeka pun tak lepas dari tangan-tangan pejuang dari para Kyai. Bagi mereka yang menjadi teroris, menebar bom di sana-sini, yang mengaku mengatasnamakan jihad karena Allah, keblinger mereka. Terlalu tinggi mungkin ilmu mereka sehingga menjadi salah tafsir mengenai jihad.
Terlepas dari masalah teroris ya, hidup di pesantren memberi berjuta pengalaman yang sangat menjadi pelajaran dalam hidup. Bahkan cerita dan hal-hal yang konyol pun tak jarang melekat dari para santri. Ambil saja ceritaku semasa di pesantren dulu. Kamar yang hanya berukuran 9x4 itu diisi oleh delapan orang. Satu jendela berada di salah satu dindingnya, lemari-lemari berderet di setiap tepi tembok, kami tidur dan beraktivitas di antaranya. Banyak hal yang kami lakukan, tak hanya mengaji dan belajar. Kami bercengkarama, bercanda tawa di sela-sela waktu istirahat. Malam itu ba’da isya’ kami (aku dan teman sekamarku) bercerita heboh tentang sinetron yang saat itu sedang in. Begitu menggebu-gebu, satu bercerita yang lainnya pun tak mau kalah serunya. Namun sesaat kami terdiam,
            “heeeiiii,,siapa nih yang kentut??!!!” seruku seraya menutup hidung, bau benar kentut itu.
            Semua terdiam dan saling berhadapan, seluruhnya menggeleng tak ada yang mau mengaku.
            “Haayyoooo siapa yang kentut??? Ngaku aja dehh, bau nihh!!!”, paksaku pada mereka.
            Namun tetap saja tak membuahkan hasil, tak ada yang mengakuinya. Lama kami berdebat dan tak ditemukan pula siapa pemilik kentut yang sungguh bau itu.
            “waaahhh,,,berarti Mbah Jin lewat sambil kentut nihh”,simpulku kemudian.
            Yang lain pun mulai panik, sedikit merasa takut.
            “Abisnya ga ada yang mau ngaku sihh,, brarti Mbah Jin lewat sambil numpang ngentut”.
            Semua terdiam, dan tak mau ambil pusing. Toh memang bukan di antara kami yang kentut. Kami pun melanjutkan acara mendongeng. Semenjak kejaian itu, setiap ada kentut yang tak bertuan maka kami menganggapnya si Mbah Jin lewat sambil numpang kentut.
            Itu cerita dulu, mungkin delapan tahun yang lalu. Masa kini mungkin hal yang hampir sama baru saja aku alami. Namun aku tak lagi di pesantren itu. Kini aku tinggal di luar, jauh dari orang tua untuk menuntut ilmu. Hehehehee...
            Siang itu aku hendak melaksanakan sholat dhuhur. Seperti biasa aku sholat di kamarku yang hanya berukuran 2,5x2,5. Seusai wudhu, aku mengambil mukena. Namun, mukena yang aku cari tak ada di tempatnya. Ku cari di atas kursi, tak ada. Aku cari di bawah meja, hasilnya nihil. Aku cari di ruang tamu pun juga tak ada. Seluruh penjuru rumah sudah aku telusuri, namun tetap saja mukena itu tak kutemukan. Kamarku sudah acak-acakan. Aku berfikir keras, dimana gerangan keberadaan mukenaku. Aku mulai flashback, masih sangat ingat aku sholat subuh dan menruh mukena di kamar. Namun anehnya tetap tak ada. Kebetulan saat itu ada seorang teman yang tidur di kamarku. Tak enak aku membangunkannya, dan tak mungkin ia tau dimana mukenaku. Aku mulai teringat dengan kejadian saat di pesantren, tentang Mbah Jin yang terkadang suka usil.
            Deg!!!! Aku terdiam sejenak. Sedikit takut dan menyesal.
            “Aduuhh Mbah Jin...Ampun Mbah... balikin ya mukena saya”, ucapku lirih. Dengan sedikit takut, tetap yakin bahwa mukena itu aku pakai paginya.
            “Mbah..ampuun. tolong balikin mukena saya,,saya janji deh ga akan sholat telat lagi”, lanjutku penuh harap Mbah Jin akan mendengarku dan mengembalikan mukenaku. Padahal saat itu waktu dhuhur belum lama berlalu, masih jam 12an.
            “Mbah..beneran deh”, ucapku mulai putus asa.
            Tak lama temanku bangkit dari tidurnya, ia bertanya “Jam berapa, Mi???”
            “Jam 12 lewat”, jawabku dengan mimik sesal.
            Namun sesaat temanku bangun dan berdiri, tak sengaja aku melihat lipatan kain di atas kasur, di tempat dimana kepala temanku saat tidur.
            Spontan aku tertawa terbahak-bahak,
            “Hahahahahahahahahahahaaaa”,,,
            Temanku bingung dengan sikap anehku yang tiba-tiba tertawa.
            “Kenapa lo, Mi???”
            Dengan masih menahan tawa, “ternyata lo Mbah Jin-nyaa..hahahahahahahahahhaaa”
            “Maksud lo????”
            “tadi gw bilang kalo yang ngumpetin mukena gw itu si Mbah Jin, dan ternyata lo yang ngumpetin mukena gw.”
            “So???”, tanyanya bingung.
            “Berarti lo Mbah Jin-nya. Hahahahahahahaaa”, aku melanjutkan tawa sampai puas. Dan berfikir itu sangat konyol. Kenapa aku sampai berfikir bahwa Mbah Jin yang ngumpetin mukenaku. Mungkin memang sebagai bahan nostalgia masa-masa di pesantren. btw,,taukah siapa Mbah Jin itu??? silahkan tebak salah satu penghuni brownies, tentunya selain saya.
            Hhhmmm....ini ceritaku. Apa ceritamu??? Mau tau yaaaa,,, Siapa tau di antara kalian juga punya cerita tentang Mbah Jin atau yang lainnya. J

Minggu, 02 Oktober 2011

Lagu untuk si Patah Hati


Lagu buat patah hati..:)

Cinta Mati III, by Mulan Jameela

Kamu, takkan pernah mendapatkan cinta
Cinta yang seperti aku berikan kepada kamu
Kamu nanti pasti kan menyadarinya
Saat aku tak lagi ada
Kamu tak kan pernah tau betapa aku
Memuja kamu seperti kumemuja dewa cinta
Kamu nanti pasti kan menyadarinya
Saat aku tak lagi ada
Cinta ini, cinta yang tak perlu mendapatkan balasan cinta
Meski hatiku perih menahan cinta yang terluka
Cinta yang buatku luka, cinta yang buatku bertahan
Meski ada air mata

Cinta ini cinta yang takkan tergantikan 2X
Inilah satu-satunya

Cinta Sudah Terlambat by Dygta

Seandainya ku katakan yang sesungguhnya
Tentang perasaanku padamu selama ini
Seandainya ku bisa memutar kembali
waktu yang telah pergi dariku
saat kau ada di sini denganku
Sebenarnya hatiku selalu mencintaimu
Hanya saja ku tak pernah mengatakan kepadamu
Dalamnya cintakiu menggenggam tulus hatimu
Namun kini kau katakan cinta sudah terlambat
Seharusnya ku tak biarkan kau menanti
kata cinta dariku yang tersimpan terlalu lama
Dan seharusnya kupahami isi hatimu
yang tulus menyayangi diriku
Sebelum cinta menjadi miliknya











JERA by Rini Idol

Hitam bukan dirimu
Putih juga bukan dirimu
Semu ku melihatmu tak bercahaya
Seperti memudar
          Cinta aku mencinta
Kamu yang aku mau
Namun tak tepat waktu
Ku sudah jera dalam percintaan
Salam hangat untuk cintamu
Aku yang kandas dan patah hati
Biarlah orang berkata lemah
Aku tak mau bercinta lagi
Engkau yang dulu pernah ku cinta
Namun terlanjur kau bersamnya
Dan ku terluka oleh cintanya
Kini kau hadir ku sudah jera


Serpihan Hati by Utopia

Di matamu aku tak bermakna
Tak punyai arti apa apa
Kau hanya inginkanku saat kau perlu
Tak petrnah berubah
          Kadang ingin ku tinggalkan semua
Perih hati menahan dusta
Di atas pedih ini aku sendiri
Selalu sendiri
Serpihan hati ini kepeluk erat
Akan ku bawa sampai kumati
Memendam rasa ini sendirian
Ku tak tau mengapa aku tak bisa melupakanmu
Ku percaya suatu hari nanti
Aku akan merebut hatimu
Walau harus menunggu sampai ku tak mampu
Menunggumu lagi